top of page

Untuk Kerabatku yang Terkasih

  • Apr 13, 2019
  • 2 min read

Aku tahu bahwa saat-saat ini, kamu merasa kuatir dengan jalannya pemerintahan negeri kita.

Ada kegelisahan yang dirasakan. Apabila calon yang tidak kamu dukung terpilih kali ini, maka bisa jadi Indonesia akan jatuh ke dalam tangan yang berbahaya. Tangan-tangan koalisi yang tamak, curang, dan tidak adil.

Aku mengetahui hal ini karena kamu sendiri yang menyampaikannya. Baik melalui kata-kata, sikap maupun unggahan sosial mediamu. Dari pembicaraan kita, yang paling berkesan bagiku adalah nada serta ekspresimu. Penuh semangat dan menggebu-gebu, saat membicarakan keadaan Indonesia yang miris dan seperti di ujung tanduk.

Sedikit-sedikit aku mengerti, bahwa politik merupakan sesuatu yang kamu pedulikan dengan sangat. Dan memang merupakan hakmu, untuk memperjuangkan pendapat yang kamu percayai dan mendukung seseorang menjadi pemimpin negara. Namun aku juga tahu bahwa pertemananmu yang sekarang didasari (atau setidaknya banyak dipengaruhi) oleh pilihan mendukung ini. Mungkin asalnya dari rasa kebersamaan, yang muncul ketika mengetahui bahwa opini orang lain sama denganmu.

Tentang hal itu aku ingin menyampaikan sesuatu, yang belum pernah ku sampaikan sebelumnya.

Aku merasa bahwa caramu menyikapi isu politik ini telah membatasi duniamu sendiri. Kamu sibuk mencari cara meredakan kegelisahan yang dialami. Kamu pun akhirnya berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung dan mempromosikan pilihanmu, bahkan mungkin sampai membagikan rumor buruk tentang rivalnya. Kadang ku lihat kamu otomatis menghakimi orang lain. Ucapan-ucapan dengan nada mengejek yang kamu lontarkan, tidak lagi terasa lucu. Beberapa hubunganmu pun telah pupus, karena kamu tidak mau berinteraksi dengan orang-orang yang tidak sepaham.

Apakah kamu sudah tidak mampu lagi untuk menikmati indahnya keberagaman dan perbedaan? Masihkah kamu menghargainya?

Ku harap kamu mau mengingat kembali, bahwa Tuhan memang menciptakan kita berbeda-beda. Ada tujuan hidup khusus yang diberikan Tuhan kepada kita, anak-anakNya. Walau cara menjalani kehidupan berbeda bagi tiap pribadi, namun kita semua diciptakan untuk membawa kemuliaan bagi Allah di seluruh penjuru bumi.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)

Renungkanlah kembali berbagai sikap dan tindakanmu. Apakah sudah mencerminkan ayat di atas?

Nah, sekarang silakan lanjut mendukung jagoanmu, tapi tolong lakukan dengan lebih bertanggung jawab. Bila ada rasa gelisah dan kuatir yang tersimpan, bawalah dalam doa dan ucapan syukur kepada Tuhan, karena Dialah yang memelihara kita dan memberikan damai sejahtera (Filipi 4:6-7).

Ku mohon (dengan sangat)… Jangan biarkan passion pribadi, ego, dan kekhawatiran membuatmu lupa akan identitasmu yang terutama. Identitas ini tidak bisa direnggut darimu kecuali kamu membiarkannya. Ayo kita sama-sama mengubah diri agar semakin berkenan di mataNya. Karena sejatinya masing-masing kita adalah anak TUHAN, yang telah ditebus oleh Kristus sebagai garam dan terang bagi dunia.


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
PO
PSIKOLOGI
UI

Jl. Lkr. Kampus Raya Blok Mawar No.5, RT.3/RW.8, Pd. Cina, Beji,

Kota Depok, Jawa Barat 16424

Success! Message received.

  • White Instagram Icon
  • White Facebook Icon

@2019 by PO Psikologi UI

bottom of page