Agama dan Nasionalisme
- Apr 13, 2019
- 3 min read
Beberapa waktu belakangan ini kita banyak digemparkan oleh berita-berita tentang aksi terorisme yang melanda Indonesia. Meskipun tidak diketahui kebenarannya, banyak dari aktor terorisme tersebut mengatasnamakan agama sebagai pembenaran perilaku keji mereka. Para pelaku teror ini merasa bahwa untuk membela agamanya, ia harus menolak dan sekaligus menyerang otoritas pemerintahan bangsa ini. Selain aksi terorisme, kita juga banyak mendengar suara-suara yang lantang menyerang tidak hanya badan pemerintahan bangsa ini namun lebih dalam lagi, dasar ideologi yang dianutnya, yaitu Pancasila. Lagi-lagi, suara-suara lantang tersebut sering kali terdengar keluar dari mulut para pengikut organisasi radikal yang religius.
Pernahkah kita menanyakan mengapa hal ini terjadi?
Mengapa narasi yang muncul menyerang nasionalisme sering kali bersifat religius? Seperti apakah sebenarnya hubungan antara paham religius dan nasionalisme? Apakah kedua paham tersebut dapat dan harus berjalan bersama-sama?
Ketika kita membahas agama dan nasionalisme dalam perspektif individu yang bermasyarakat, pada hakikatnya kita berbicara mengenai identitas agama dan negara dalam diri individu tersebut. Gerakan-gerakan anti-Pancasila yang kita saksikan terjadi saat ini sering kali muncul akibat segregasi yang tidak sehat antara identitas agama dan identitas negara dalam diri seseorang. Entah oleh karena interpretasi yang keliru akan ajaran agamanya atau pandangan yang picik terhadap Pancasila, para oknum anti-Pancasila sulit untuk melihat kedua identitas tersebut hidup berdampingan. Sehingga untuk dapat seutuhnya mengabdi kepada Tuhan, menolak ideologi negara seakan-akan menjadi sebuah keniscayaan.
Lantas bagaimana dengan kita sebagai seorang Kristen yang juga tinggal dan hidup di Indonesia? Apakah kitapun juga melakukan segregasi tersebut?
Terkadang kita terlalu cepat untuk menilai oknum-oknum anti-Pancasila tersebut sebagai orang-orang yang picik pikirannya dan tidak memahami apa artinya hidup berwarga negara. Padahal, kitapun sering kali jatuh pada lubang yang sama. Kita sering secara sadar memisahkan kehidupan kekristenan kita dengan kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Bedanya, segregasi yang kita lakukan tidak termanifestasi dalam bentuk gerakan oposisional melainkan dalam bentuk ketidakacuhan atau apatis. Kita sering kali menggunakan label ‘minoritas’ sebagai dalih untuk tidak berkontribusi bagi negara ini, seakan-akan kita tidak lebih ‘Indonesia’ dibandingkan mereka yang kita anggap mayoritas.
Sebagai seorang Kristen, kita tidak dipanggil untuk menenggelamkan identitas kita sebagai warga negara Indonesia. Sebaliknya, kita justru dipanggil untuk berpartisipasi aktif dan membangun bangsa di mana kita ditempatkan. Saat Kristus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” (Mat 12:17), Ia secara langsung memerintahkan kepada kita untuk mendukung pemerintahan yang ada. Meskipun saat itu Kristus menyadari bahwa pemerintahan bangsa Romawi adalah pemerintahan yang korup dan pajak yang Ia bayarkan kemungkinan besar akan digunakan untuk hal yang tidak bijak, Ia tetap mengajarkan murid-murid-Nya untuk selalu menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Perihal menuruti aturan bukanlah perihal pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus.
Terlebih lagi, tidak hanya kita dipanggil untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kita juga dipanggil untuk berdampak yaitu dengan menjadi proaktif dan membawa perubahan bagi bangsa ini. Sebagaimana Tuhan memerintahkan Yeremia untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana ia dibuang (Yeremia 29:7), saat ini kitapun juga hidup di bawah perintah yang sama. Kita sebagai murid Kristus harus bertekad menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di negara ini melalui kasih dan usaha kita. Panggilan kita adalah untuk selalu mengusahakan keadilan, kebaikan, kesejahteraan, dan kedamaian bagi setiap lapisan rakyat Indonesia. Menyatakan kemuliaan Allah Bapa di bumi Nusantara ini melalui perilaku hidup dan kasih kita.
Memasuki masa Pemilihan Umum April 2019 ini, marilah kita ambil waktu sejenak untuk dengan sungguh merenungkan dan juga mendoakan masa depan bangsa Indonesia. Kita telah diberikan amanat untuk memilih dengan kesungguhan hati, pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan hikmat kepada kita untuk dapat memilih dengan bijak dan bertanggung jawab.
Mari kita berdoa kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kepada kita kasih-Nya dan semangat-Nya untuk memperjuangkan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Tuhan Yesus memberkati.




Comments