top of page

A Letter from Jeremiah

  • Apr 13, 2019
  • 3 min read

A Letter from Jeremiah - Yeremia 29:1-14


Bayangkan bila suatu hari negara kita dikepung dan semua rakyatnya ditawan dalam pembuangan ke negara yang asing. Di tengah penderitaan seperti itu, pesan apa yang ingin kita dengar? Sudah tentu kita akan merindukan berita yang mengatakan bahwa kita akan dibebaskan dan dipulangkan kembali dari penjajahan.


Hal inilah yang dilihat oleh nabi Yeremia pada masa pembuangan orang Israel ke Babel oleh raja Babel, Nebukadnezar. Yeremia paham betul bahwa Tuhan menghendaki rakyat Yerusalem diasingkan selama 70 tahun (Yeremia 27), tetapi ada begitu banyak nabi-nabi palsu dan juga ahli tenung yang mengirimkan pesan bahwa rakyat Yerusalem akan secepatnya dibebaskan dan dipulangkan kembali. Pesan yang tentunya diidamkan oleh bangsa Israel, tetapi bertentangan dengan kehendak Allah.


Nabi Yeremia harus berdiri sendiri melawan pesan dari para nabi palsu dan mengirimkan pesan yang sangat tidak enak bagi rakyatnya, tetapi sesuai dengan kehendak Allah. Pesan yang memberitahukan bahwa mereka akan tetap dalam pembuangan untuk waktu yang lama dan juga menginstruksikan bangsa Israel untuk menyejahterakan tempat pembuangan itu, sampai mereka dibebaskan kembali dan pertobatan mereka akan diterima oleh Tuhan (ay. 4-14).


Meski sulit, namun nabi Yeremia tetap mengirimkan surat melalui utusannya kepada raja Nebukadnezar dan meyakinkan bangsa Israel mengenai pemulihan setelah 70 tahun pembuangan sudah genap. Nabi Yeremia juga meminta mereka untuk menjalani hidup dengan normal dan tidak mendengarkan perkataan nabi-nabi palsu. Pada akhirnya, keberaniannya berhasil membawa bangsa Israel menjalani disiplin dari Tuhan dan Tuhan pun menepati janjinya untuk memulangkan bangsa itu dengan menggerakan hati raja Babel selanjutnya, Koresh (Ezra 1:1-11).


Bila kita ditempatkan di posisi Yeremia, apa yang akan kita lakukan?


Banyak orang Kristen sekarang yang tidak peduli pada perpolitikan dan negaranya. Bahkan, iman percaya kita menjadi suatu hal yang eksklusif untuk kita atau sesama kaum percaya lainnya. Seolah-olah kekristenan adalah suatu hal yang terbatas dan tidak diperlukan dalam hal bernegara.


Melalui nabi Yeremia, kita belajar untuk memiliki hati yang mencintai dan peduli pada negara. Nabi Yeremia setia menyatakan kebenaran Allah di tengah-tengah masyarakat meski itu artinya ia harus berdiri sendiri. Mungkin, kita akan terkesan aneh bila hanya seorang diri menaruh perhatian kepada kemajuan bangsa dan negara, tetapi Tuhan pun punya kerinduan untuk semua bangsa mengenal dan menjadi murid-Nya (Matius 28:19-20). Kita diberi tugas untuk menjadi saksi Kristus dimana pun kita berada (Kisah Para Rasul 1:8).


Bila Tuhan mau bangsa Israel menyejahterakan dan mendoakan kota di mana mereka dibuang (ayat 27), karena kesejahteraan kota itu adalah kesejahteraan mereka juga, pun Tuhan mau kita berjuang dan berdoa untuk kesejahteraan Indonesia. Ditambah kita ditempatkan di negara ini dengan situasi yang jauh lebih kondusif dibanding bangsa Israel yang ditempatkan di Babel sebagai orang buangan.


Mungkin, kita merasa berpartisipasi aktif dalam bernegara tidak membawa keuntungan apapun bagi diri kita sendiri, namun di luar sana ada begitu banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Bayangkan bila nabi Yeremia hanya memikirkan diri sendiri dan menolak ikut campur dengan mengirimkan surat, dampaknya pasti sangat besar kepada bangsa Israel dan juga jalannya sejarah dunia.


Panggilan bagi kita mungkin tidak sebesar panggilan bagi nabi Yeremia. Tetapi, bukan berarti kita bisa dengan leluasa melalaikan panggilan tersebut. Mungkin, cara terbaik untuk memulai adalah dengan meminta hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan untuk kita memilih calon pemimpin di Pemilihan Umum. Pilihan kita bisa berdampak besar bagi kehidupan masyarakat.


Selain itu, kita pun perlu mempertahankan hidup kita supaya tetap bersih dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan (Mazmur 119:9). Bila kita setia pada hal-hal yang kecil seperti menjaga integritas saat berkuliah, atau mengerjakan kewajiban kita dengan penuh tanggung jawab, maka kita akan tetap setia pada Tuhan saat panggilan untuk mengerjakan sesuatu yang besar datang (Lukas 16:10).


 
 
 

Comments


Recent Posts
Archive
PO
PSIKOLOGI
UI

Jl. Lkr. Kampus Raya Blok Mawar No.5, RT.3/RW.8, Pd. Cina, Beji,

Kota Depok, Jawa Barat 16424

Success! Message received.

  • White Instagram Icon
  • White Facebook Icon

@2019 by PO Psikologi UI

bottom of page