A New Chapter of Passover
- Apr 24, 2018
- 3 min read
“Dear friends, since God loved us that much, we surely ought to love each other.”
- 1 John 4 : 11 NLT -
Mungkin ayat diatas adalah salah satu rangkuman paling utuh mengenai ibadah paskah PO Psikologi UI tanggal 6 April lalu. Banyak sekali hal yang bisa kita semua dapatkan lewat pemberitaan firman Tuhan oleh pembicara Ko Johan Nugroho dan juga rangkaian ibadah yang telah berlangsung. Melalui tulisan ini, aku mau mengajak kita semua untuk kembali menikmati dan mengambil waktu refleksi pribadi, serta mencoba memahami lebih dalam apa yang Tuhan sampaikan melalui perayaan itu bagi kita semua hari ini dan kedepannya.
Untuk membawa kita semua semakin menikmati pembahasan di artikel ini, aku membawa ayat referensi di 1 Yohanes 4 : 7-21. Sesuai dengan judul perikopnya “Allah adalah kasih” pada versi bahasa Indonesia dan “Loving one another” pada versi bahasa Inggris, kita bersama akan mengulas hal yang paling utama dibahas di paskah kemarin tentang kasih dalam kaitannya dengan violence.
Secara pribadi, aku sudah pernah mengalami 17 kali Jumat Agung dan Paskah. Tidak ada ekspektasi apapun kalau Paskah ke-18 ini akan berbeda dari sebelumnya. Tetapi Tuhan memberikan kepadaku satu momen untuk kembali bisa menikmati sebuah pengajaran yang baru dan merefleksikannya, inilah yang akan aku bagikan melalui artikel ini.
Tema yang diangkat adalah “A Love Worth Giving.” Hal pertama yang langsung timbul di benakku adalah Yesus yang telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa dan kesalahan kita semua. Ditambah dengan rangkaian ibadah Jumat Agung yang telah kulewati di gereja, aku langsung berpikir “Ah, bahas soal itu lagi!”
Tetapi sejak awal pemberitaan firman, aku melihat satu sudut pandang lain yang mungkin kita semua sering lupakan. Pada kenyataannya, dunia kita dipenuhi dengan kekerasan dan hal itu tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang non-Kristen saja. Mungkin kita sendiri pun melakukan kekerasan, tetapi tidak terlihat karena objek yang kita lukai adalah diri kita sendiri. Bahkan, tangan kita semua sebetulnya ‘berlumuran darah’ karena rantai dosa membuat kita semua suka pada kekerasan.
Lantas pertanyaan selanjutnya yang cukup menyentakku adalah: “Lalu kematian Yesus di atas kayu salib yang selama ini kita semua tahu itu untuk apa?” Bila masih sulit bagi kita semua untuk mengasihi sesama kita yang terlihat, maka kematian Yesus menjadi sia-sia. Rantai kekerasan itu tidak terputus.
Disinilah momen kebangkitan Yesus seharusnya menjadi sangat spesial bagi kita semua orang percaya. Kita telah dibangkitkan bersama dengan Dia dan kematian-Nya memberikan kepada kita kesempatan untuk hidup. Kita seharusnya telah melepas manusia lama kita yang cinta pada kekerasan dan tak bisa mengasihi, lalu mengenakan pakaian yang baru. Yaitu, hidup yang kudus dan penuh kasih. Ini adalah bukti bahwa kita telah dilahirkan kembali dan mengenal Allah (1 Yoh. 4:7).
Sebuah bab baru setelah cerita paskah semestinya adalah bab yang kita masing-masing secara pribadi tuliskan bersama dengan Tuhan. Yaitu bab dimana cerita didalamnya dipenuhi dengan kasih kita kepada Tuhan dan sesama (Mat. 22:37-39). Bahkan saat kita mengalami kekerasan yang dilakukan oleh orang lain, kita bisa membalas mereka dengan kekuatan kasih. Karena kasih berasal dari Allah dan bersifat mengubahkan.
Ada sebuah rasa sukacita tersendiri untukku setelah mendengar pemberitaan firman tersebut. Aku bertekad untuk membuka sebuah bab baru untuk menyebarkan kasih kepada orang lain bersama dengan Tuhan. Dimulai dari lingkaran terkecil dulu, yaitu di komunitas PO Psikologi bersama dengan teman-teman seiman. Hal ini direalisasikan dengan Passover project yang kita semua telah kumpulkan bersama-sama untuk diserahkan kepada pegawai-pegawai di fakulas. Lalu menikmati potluck bersama-sama dengan sumbangan makanan dan minuman yang telah dibawa oleh tiap angkatan.
Untuk menjadi kasih di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kekerasan memanglah sangat sulit. Bahkan kurasa kita semua pernah mengalami dilema untuk memilih antara kasih dengan ego diri sendiri, yang seringkali dimenangkan oleh kepentingan diri sendiri. Tetapi, itulah mengapa relasi kita dengan Tuhan menjadi sangat penting dalam hal mengasihi (1 Yoh. 4:16). Kita akan terus menerus gagal dalam mengasihi, namun jangan berhenti untuk belajar. Mengasihi akan lebih mudah dilakukan bila kita bersama dengan komunitas yang bertumbuh di dalam pengenalan akan kasih itu. Pada akhirnya, semua kasih yang kita usahakan akan terasa worth it karena kita sadar bahwa Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita melalui momen Jumat Agung dan Paskah.












































































Comments